Senin, 29 Juni 2009

multiplexing pada SDH



sekilas tentang SDH (Synchronous Digital Hierarchy)


SDH merupakan suatu hirarki permultiplexan secara digital dengan menggunakan transmisi sinkron dengan menggunakan atomic clock. SDH mengambil peranan vital dalam perkembangan dunia telekomunikasi. Dengan kemunculan SDH ini kapasitas dan keseragaman dapat diatasi.

Pada zaman sekarang ini, dimana jumlah user pengguna jasa telekomunikasi semakin tinggi, maka tentunya akan membuat trafik semakin tinggi juga. Trafik yang tinggi ini juga harus diimbangi dengan peningkatan kualitas dari perangkat (dalam hal ini teknologi permultiplexan). Karena sebenarnya bisa saja trafik yang tinggi ini dihandel dengan penambahan kuantitas (jumlah), namun tentunya hal ini menjadi sangat tidak efektif.

SDH sendiri muncul untuk menggantikan sistem permultiplexan yang sudah ada sebelumnya, yaitu PDH ( Plesiochronous Digital Hierarchi). Sistem PDH ini digantikan karena tidak mendukung beberapa hal yang dibutuhkan saat ini, seperti penambahan kapasitas yang cukup besar dan keseragaman. Keseragaman disini maksudnya adalah standar yang sama untuk setiap negara. Sebagai contoh, Eropa menggunakan standar 2,048 Mbps (E1) tetapi Amerika menggunakan standar 1,544 Mbps (T1). Oleh karena itu, akan sangat sulit untuk meng-crossconnect kan kedua benua tersebut apabila tidak memiliki standar yang sama. Dengan adanya SDH maka masalah tersebut kemudian dapat diatasi. Berikut ini adalah gambar hirarki multiplexing PDH dan SDH.

pada gambar diatas terlihat bahwa sebelum adanya SDH, sistem permultiplexan PDH adalah seperti yang di sebelah kiri, untuk jepang, Amerika Utara, dan Eropa berbeda-beda kapasitas akhir multiplexnya. Sedangkan pada SDH meskipun awalnya memliki standar yang berbeda (E1 dan T1), namun pada akhir permultiplexannya memiliki kapasitas yang sama, yaitu sebesar kelipatan 155,52 (disebut sebagai STM-1)

Meskipun telah ada SDH, namun PDH tidak ditinggalkan. Hal ini dikarenakan PDH masih bisa dihandel oleh SDH. Namun pada kenyataannya sekarang ini, para vendor rata2 sudah tidak memproduksi PDH lagi dan terus mengembangkan kapasitas SDH.

STM-N merupakan satuan yang dipakai oleh SDH. STM-N besar nya adalah N x 155,52 Mbps. Nilai N yang ada adalah 1, 4, 16, 64, 128, dst. Nilai STM (Synchronous Transport Modul) ini sendiri masih terus ditingkatkan kapasitasnya. Sistem transmisi yang mampu mengangkut kapasitas yang cukub besar ini biasanya dapat berupa optik (masih terus dikembangkan) dan microwave (kapasitasnya tidak dapat sebesar optik).

STM-1
sebelum lebih jauh membahas mengenai multiplexing pada SDH, akan lebih baik apabila kita mengenal STM-1 terlebih dahulu. STM-1
merupakan satuan dasar pada SDH. frame STM-1 berukuran 270 x 9 byte.
Stuktur dari STM-1 adalah sebagai berikut:

1. Overhead. Dibagi menjadi 2, yaitu:

a. Section Overhead (SOH)

Section Overhead terletak pada 9 kolom awal sebagai monitoring, maintenance, dan servis. Terbagi menjadi dua berdasarkan fungsinya, yaitu:

1. Regeneration Section Overhead (RSOH) berfungsi untuk memonitor regeneration section dari SDH. Terletak pada baris ke 1 sampai 3 dan kolom ke 1 sampai 9.

2. Multiplex Section Overhead (MSOH) berfungsi untuk memonitor multiplex section dari SDH. Terletak pada baris ke 5 sampai 9 dan kolom ke 1 sampai 9.

b. Path Overhead (POH)

Path Overhead terletak pada VC (Virtual Container). Berfungsi sebagai label VC , error checking dan path status. Terbagi menjadi 2 berdasarkan letaknya, yaitu:

1. High Order Path Overhead (HPOH), merupakan POH untuk beberapa VC-12.

2. Low Order Path Overhead (LPOH), merupakan POH untuk VC-12

2. Pointer

Digunakan untuk mengindentifikasikan awal alamat dari informasi.

3. Information Payload

Berisikan sinyal-sinyal informasi/tributary.

Diagram hirarki multiplexing dari SDH adalah sebagai berikut

keterangan:

C= Container, merupakan sinyal informasi yang masih mentah (belom memiliki POH)
VC= Virtual container, merupakan sinyal informasi yang telah memiliki POH
TU = tributary unit, merupak
an sinyal

yang telah memiliki pointer
AU = administrative unit, mirip dengan TU namun kapasitasnbya lebih besar.
AUG = administrative unit group, merupakan kumpulan AU.
Mapping = merupakan proses pemberian POH
Aligning = merupakan proses pemberian pointer
multiplexing = mengalikan s
atuan yang

sama sehingga kapasitasnya menjadi lebih besar.

Angka-angka dibelakang C, VC, TU, AU, AUG menunjukan besarnya kapasitas.
sebagai contoh, nilai satu E1 (2,048 Mbps
) setara dengan C-12 (container level 12), nilai 1 E3 (24,368 Mbps = 16 E1) setara dengan C-3, dan seterusnya.

tanda perkalian menunjukan j
umlah yang

dibutuhkan agar satuan yang letaknya lebih kekiri dapat menjadi senilai dengan satuan yang letaknya berada disebelah kanannya. Contohnya adalah diperlukan tiga TU-12 untuk menjadi satu TUG-2. Jadi apabila kita ingin menghitung berapa E1 untuk 1STM-1 adalah
1 STM-1 = 1 x 1 x 3 x 7 x 3 C-12(E1) = 63 E1.
cara yang sama dapat kita lakukan

apabila ingin mengetahui berapa kapasitas yang dapat ditampung dalam suatu STM-N.

Contoh Proses multiplexing dari sinyal PDH ke SDH (STM-4)
(Perhatikan gambar hirarki diatas)

Sinyal PDH setara dengan E4 atau C-4.

Seperti yang terlihat pada gambar, sinyal ini kemudian akan mengalami proses mapping (penambahan overhead) sehingga menjadi VC-4. Selanjutnya VC-4 tersebut akan mengalami aligning (penambahan pointer) sehingga menjadi AU-4. Sinyal ini kemudian akan dibentuk menjadi AUG-1, dan

dimultiplexing 4 kali sehingga menjadi AUG-4. Selanjutnya setelah menjadi AUG-4 sinyal ini menjadi STM-4.
Dengan cara yang sama maka kita dapat menj
elaskan proses multiplexing yang lain.



















Tidak ada komentar:

Posting Komentar